{"id":8456,"date":"2023-11-15T17:03:17","date_gmt":"2023-11-15T10:03:17","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blog.kontainerindonesia.co.id\/?p=8456"},"modified":"2026-04-07T16:37:49","modified_gmt":"2026-04-07T09:37:49","slug":"pembekuan-ikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/blog\/pembekuan-ikan\/","title":{"rendered":"Proses Pembekuan Ikan dalam Beberapa Cara yang Efektif"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembekuan ikan adalah proses penyimpanan ikan dalam temperatur rendah yang bertujuan untuk mengawetkan ikan dan tetap menjaga kondisinya tetap segar. Temperaturnya pun harus berada di bawah titik beku supaya membekukan kandungan air di dalam tubuh ikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Proses pembekuan ikan dapat meminimalkan bakteri untuk bertumbuh dan berkembang menjadi lebih banyak. Pertumbuhan dan perkembangan bakteri di dalam tubuh ikan tidaklah menguntungkan karena bakteri menjadi penyebab pembusukkan ikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ikan yang busuk sama saja artinya ikan mengalami penurunan mutu atau tidak berkualitas. Ikan yang tidak bermutu ini susah untuk dijual di pasaran karena tak ada pembelinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam prosesnya, pembekuan ikan terbagi menjadi beberapa metode: blast freezing, contact freezing, cryogenic freezing, dan immersion freezing. Metode pembekuan ikan pun berkembang dengan muculnya teknik-teknik lainnya, seperti pressure shift freezing, impingement freezing, magnetic freezing, dan hydro-fluidization freezing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembekuan ikan menjadi cara populer untuk menjaga mutu ikan yang aman, murah, dan simpel untuk dilakukan. Ulasan kali ini membahas metode pembekuan ikan dan setelan temperaturnya.<\/span><\/p>\n<h2><strong>1. Pembekuan Ikan Blast Freezing<\/strong><\/h2>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-8460 size-full\" src=\"https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Cold-Storage-Ikan-Laut.webp\" alt=\"Pembekuan Ikan Blast Freezing\" width=\"600\" height=\"600\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Cold-Storage-Ikan-Laut.webp 600w, https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Cold-Storage-Ikan-Laut-300x300.webp 300w, https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Cold-Storage-Ikan-Laut-150x150.webp 150w, https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Cold-Storage-Ikan-Laut-75x75.webp 75w, https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Cold-Storage-Ikan-Laut-350x350.webp 350w\" sizes=\"(max-width: 600px) 100vw, 600px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Blast freezing adalah metode pembekuan ikan dengan menyebarkan udara dingin bertemperatur -40\u00b0C secara cepat. Cara pembekuan ikan blast freezing memberi hasil yang cepat dan efektif dalam membuat ikan dalam kondisi beku.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Blast freezing bekerja dengan mensirkulasikan udara bertemperatur rendah di dalam ruangan. Udara yang bersirkulasi ini melajut dengan kuatnya untuk mengurangi panas di dalam ruangan.<\/span><\/p>\n<h2><strong>2. Cryogenic Freezing<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cryogenic freezing adalah metode pembekuan ikan yang memanfaatkan nitrogen cair atau bahan cryogen lainnya untuk disemprotkan sehingga ikan beku dengan cepat. Biasanya metode cryogenic freezing umum diterapkan di industri..<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembekuan cryogenic freezing menciptakan temperatur -10\u00b0C atau lebih rendah sampai terbentuk butiran-butiran es pada ikan. Hasilnya populer dengan mana block frozen.<\/span><\/p>\n<blockquote><p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/blog\/ruangan-chiller\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ruangan Chiller &amp; Pendingin Freezer, Apa Perbedaan Fungsinya?<\/a><\/strong><\/p><\/blockquote>\n<h2><strong>3. Contact Freezing<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contact freezing adalah metode pembekuan ikan yang bekerja dengan memfungsikan permukaan dingin di dalam ruangan untuk membuat ikan beku secara pelan-pelan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sederhananya, teknik yang disebut Contact Plate Freezing (CPF) bisa bekerja pada ruang pendingin yang sepenuhnya berbasis pelat besi. Lantai yang berbasis pelat besi ini sebelumnya telah mengalami proses pendinginan dengan refrigerant.<\/span><\/p>\n<h2><strong>4. Immersion Freezing<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Immersion freezing adalah metode pembekuan ikan lewat cara pencelupan ikan ke nitrogen cair, karbon dioksida, ataupun larutan garam sebagai cairan pendingin. Walaupun cepat dilakukan, teknik ini terbilang mahal karena penggunaan peralatan khusus, yaitu brine freezer.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan memakai teknik ini, ikan bisa dibekukan hingga temperatur -18\u00b0C lalu dikemas dan disimpan di ruang pendingin atau <\/span><a href=\"https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/cold-storage\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">cold storage<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> sebelum nantinya didistribusikan ke pemesan.<\/span><\/p>\n<blockquote><p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/blog\/ruangan-pendingin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ruangan Pendingin Cold Room Daging &amp; Buah \u2013 Jenis &amp; Tipenya<\/a><\/strong><\/p><\/blockquote>\n<h2><strong>5. Pressure Shift Freezing<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pressure shift freezing atau PSF adalah metode pembekuan ikan yang memanfaatkan tekanan isostatik tinggi untuk mengubah air menjadi butiran es. Teknik ini membekukan ikan pada temperatur -22\u00b0C. Walaupun tekstur ikan tetap baik, teknik PSF ternyata bisa membuat protein rentan rusak.<\/span><\/p>\n<h2><strong>6. Impingement Freezing<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Impingement freezing adalah metode pembekuan ikan yang memanfaatkan embusan udara dingin yang mengalir secara cepat untuk menilangkan panas pada tubuh ikan. Teknik pembekuan ini cocok untuk pengawetan ikan yang tebalnya kurang lebih 2 cm semisal filet.<\/span><\/p>\n<blockquote><p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/blog\/gudang-ikan-beku\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gudang Ikan Beku: 7 Jenis Ikan yang Disimpan<\/a><\/strong><\/p><\/blockquote>\n<h2><strong>7. Magnetic Freezing<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Magnetic freezing adalah metode pembekuan ikan karena efek medan magnet ke sekitar ikan yang berakibat pada pembentukan kristal es. Teknik ini menjadikan kondisi ikan awet dan segar dibandingkan hanya didinginkan begitu saja dengan es.<\/span><\/p>\n<h2><strong>8. Hydro-Fluidization Freezing<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hydro-fluidization freezing adalah metode pembekuan ikan yang prosesnya berlangsung dari terciptanya jet agitasi terhadap ikan. Teknik ini mengombinasikan immersion freezing dengan forced liquid fluidization. Hydro-fluidization freezing ideal untuk membekukan ikan kecil atau udang.<\/span><\/p>\n<blockquote><p>cold storage juga digunakan untuk produk lain seperti produk susu.\u00a0<a href=\"https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/cold-storage\/susu\/\">Lihat cold storage susu.<\/a><\/p><\/blockquote>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pembekuan ikan adalah proses penyimpanan ikan dalam temperatur rendah yang bertujuan untuk mengawetkan ikan dan tetap menjaga kondisinya tetap segar. Temperaturnya pun harus berada di bawah titik beku supaya membekukan kandungan air di dalam tubuh ikan. Proses pembekuan ikan dapat meminimalkan bakteri untuk bertumbuh dan berkembang menjadi lebih banyak. Pertumbuhan dan perkembangan bakteri di dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":21,"featured_media":8459,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","video":"","gallery":"","source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"2","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"0","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"1","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0","post_calculate_word_method":"str_word_count"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"footnotes":""},"categories":[110],"tags":[],"class_list":["post-8456","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-referensi"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8456","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/21"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8456"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8456\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":22253,"href":"https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8456\/revisions\/22253"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8459"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8456"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8456"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kontainerindonesia.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8456"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}